Bali dan ke-BALI-an

Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang terkenal. Keindahan pemandangan alam Bali merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara, begitupun keramahtamahan masyarakat Bali. Sebagian besar / mayoritas penduduk Bali menganut agama Hindu. Tempat suci umat Hindu adalah PURA, sehingga Bali pun dijuluki Pulau Seribu Pura. Bali juga terkenal dengan julukan Pulau Dewata. Bali juga memiliki beragam seni dan budaya yang sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus untuk mejaga dan melestarikan agar tidak punah. Gotong royong, tepa selira, tenggang rasa adalah ciri orang Bali asli. Istilah me-NYAMA BRAYA sangat kental dan erat hubungannya dengan masyarakat Bali. Namun kini hal tesebut telah mulai luntur di kalangan masyarakat Bali sendiri, jika itu terus berlanjut maka jati diri dan ke-BALI-an kita akan semakin terkikis.

Seni dan budaya Bali pun telah berangsur-angsur kehilangan penggemar dan jati diri. Salah satu contoh, adalah pertunjukan Wayang Kulit. Dahulu, kesenian Wayang Kulit sangat diminati para masyarakat Bali dan dalam setiap pagelarannya tak pernah sepi penonton, namun kini kesenian tersebut telah kalah saing dengan materi sinetron (kecuali Wayang Modern Cenk-Blonk dari Blayu). Masyarakat Bali lebih memilih nongkrong di depan televisi menikmati sinetron demi sinetron (yang menurut saya sangat memuakkan) daripada menikmati pagelaran seni tradisional (baik Wayang Kulit ataupun seni tradisional lainnya) yang sebenarnya sarat dengan nilai-nilai filosofi keagamaan dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sebagai orang Bali, pastinya sudah mengetahui mana  kesenian yang di-SAKRAL-kan dan mana yang untuk dipertontonkan. Banyak kesenian Bali kini yang sudah kehilangan jati diri dan dipakai sebagai alat mengeruk keuntungan. Coba kita bayangkan sebagai orang Bali, apa yang akan terjadi jika dilema ini terus berlanjut? Memang disadari bahwa di jaman modern seperti sekarang ini, kita sebagai orang Bali tak boleh sampai ketinggalan jaman.

Dijaman yang serba modern memang seharusnya kita (red: Orang Bali) juga berfikir modern dan selalu mengikuti arus perkembangan jaman. Namun apakah demi perkembangan jaman kita (orang Bali) harus mengesampingkan Seni dan Budaya Bali? Jawabannya tentu TIDAK. Sebagai orang Bali harus tetap menjaga dan melestarikan Seni dan Budaya Bali yang adi luhung.

Semoga tulisan ini menjadikan kita orang Bali yang tetap AJEG BALI dalam era modernisasi dan globalisasi. ASTUNGKARA.


Share on Google Plus

About rodhie sutrawan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar :

rare angon mengatakan...

Becik artikelnya; tiang sangat setuju, teknologi dan kemajuan zaman jangan sampai "mendikte" kita di dalam adat dan budaya, mari kita manfaatkan teknologi untuk kemajuan Gita Sastra dan Budaya Bali kita, dan yang utama kesejahteraan masyarakat Bali.

| Radio Nak Bali |