Makna Banten Perkawinan Adat Bali


KAWIN, salah satu cara untuk menyuucikan diri. dalam kitab Manawa Darmasastra II.28 disebut disebut banyak cara untuk dapat menuju jalan Tuhan. Salah satu adalah dengan berputra. Lebih-lebih kalau putra itu adalah Suputra atau putra utama. Karena itu kawin bukanlah semata-mata hubngan seks antara seorang pria dengan seorang wanita. Salah satu tujuan kawin adalah untuk dapat melahirkan Suputra atau putra utama. Putra utama adalah putra yang dilahirkan melalui perkawinan yang sah menurut agama. Sahnya suatu perkawinan menurut ajaran Hindu apabila dilakukan melalui prosesi ritual agama yang sakral. 

Topik ini saya ambil dari artikel karya I Ketut Widyananda dari sebuah surat kabar beberapa tahun yang lalu. Saya merasa artikel ini sangat bermakna khususnya bagi umat hindu dan masyarakat pada umumnya.Untuk itu tanpa mengurangi rasa hormat saya pada sang penulis, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya menulis (mengutip) artikel ini kembali tanpa persetujuan dan sepengetahuan penulis artikel (Bapak I Ketut Widyananda). Artikel ini saya tulis kembali bukan untuk tujuan komersialisasi, namun justru saya ingin mengajak umat hindu khususnya untuk dapat memahami "Makna Banten Perkawinan" sehingga bisa menuju Grahasta yang berbahagia dan rukun.

Dalam Lontar Dharma Kauripan, disebutkan  upacara agama yang sakral untuk manusia itu sebagai salah satu ciri perbedaan antara manusia dengan binatang. Kalau kehidupan manusia tanpa ritual agama yang sakral berarti manusia itu sama saja dengan binatang. Hakekat perkawinan menurut agama Hindu memiliki Tattwa, Susila dan Upacara. Tattwa  dari perkawinan itu adalah menyucikan diri dengan cara berputra untuk dapat mencapai alam Ketuhanan. Susilamnya diatur dengan prosedur perkawinan.

Upacara perkawinan atau Wiwaha Yadnya itu ada dua tahap. Tahap pertama adalah upacara "penyucian" dan tahap kedua upacara "persaksian". Upacara penyucian itu dalam tradisi umat Hindu di Bali disebut Upacara Pekala-kalaan, disebut juga Upacara Byakala atau Byakaonan. Tujuan upacara pekala-kalaan ini adalah untuk menyucikan kedua mempelai terutama benih yang dibawa oleh masing-masing pasangan dalam perkawinan tersebut. Benih laki disebut Sukla dan benih wanita disebut Swanita. Disebut juga Kama Jaya dan Kama Ratih. Kalau kedua benih yang berbeda itu bertemu tidak melalui proses ritual keagamaan yang sakral disebut Kama Kaperagan, artinya pembuahan hanya berdasarkan hawa nafsu semata. Raga dalam hal ini artinya nafsu duniawi saja. Pertemuan yang tidak menurut ajaran agama itu akan melahirkan anak yang disebbut Surta Diadium artinya anak haram. Perkawinan itu dilakukan berdasarkan niat suci. Niat suci itulah sebagai landasan mengendalikan hawa nafsu dalam perkawinan. Niat suci dalam mengendalikan nafsu seks itu diekspresikan dalam upacara perkawinan. Pekala-kalan diselenggarakan dengan beberapa perlengkapan Bebanten. 

Banten itu juga ada pilihannya sesuai dengan kemampuan Yajamana (orang yang melangsungkan upacara) Banten yang bermakna penyucian dalam Wiwaha Yadnya ini adalah Banten Pedengen-dengenan. Banten ini sebagai kumpulan beberapa banten misalnya, Banten Tumpeng dengan lima buah timpeng kecil, Banten Untek dengan tujuh buah untek, Banten Solasan 22 tanding, Banten Bayuhan yaitu lima Penek, dengan olahan ayam berumbun. Kemudian dilengkapi dengan Banten Byakala dan Prayascinta/Prayascitta, Tikeh Dadakan, Banten Kala Sepetan, Banten Tegen-tegenan yang dipikul oleh mempelai laki dan Banten Suwun-suwunan yaitu banten yang diusung oleh mempelai wanita. Banten Kala Sepetan, lambang penyucian kedua mempelai terutama benih yang dibawa oleh kedua mempelai dari godaan Butha Kala. Banten Kala Sepeetan ini dibuat dari serabut kelapa dari sebutir kelapa secara utuh. Di dalam serabut kelapa yang dibelah tiga itu diisi Kewangen dan diikat dengan benang Tri Datu, yaitu benang merah, hitam dan putih disisipi tiga batang lidi, ujung batang dapdap tiga potong. Kala Sepetan adalah nama salah satu Bhuta Kala. Bhuta Kala inilah yang diberikan haturan sesajen kelengkapan dari sebuah bakul berisi sebutir telur ayam mentah, batu bulitan hitam, kunir, keladi, andong dan kapas. 

Tujuan banten ini untuk Nyomia Kala Sepetan agar jangan mengganggu upaya penyucian benih kedua mempelai. Banten Tegen-tegenan yang akan dipikul oleh mempelai laki adalah lambang kewajiban suami dalam rumah tangga setelah perkawinan itu sah. Sedangkan Banten Suwun-suwunan yang diusung/dijinjing oleh mempelai  wanita merupakan lambang dari kewajiban istri dalam rumah tangga.  Banten Tegen-tegenan terdiri dari sebuah cangkul, sebatang tebu dan dahan dapdap. Ketiganya itu diikat menjadi satu dengan sampian yang disebut sasap atau bakang-bakang. Di bagian ujungnya digantungi sebuah priuk yang berisi tutup. Ujung yang lainnya digantungi bakul kecil yang berisi uang 225 kepeng, jajan begina dan pisang. Hal ini melambangkan bahwa kewajiban suami adalah untuk mencari nafkah yang dilambangkan oleh bakul. Demikian juga mempunyai rencana pengembangan keluarga yang dilambangkan oleh tebu yang beruas-ruas. Rencana pengembangan keluarga itu agar seperti tebu, tahap demi tahap. Tahap pertama dan berikutnya menjadi lebih manis. Tebu dalam Lontar Taaru Premana adalah lambang Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta. Carang/dahan dapdap dalam Lontar Taru Premana disebut Taru Sakti. Ini artinya agar rumah tangga itu memiliki daya tahan yang tangguh dalam menghadapi godaan hidup. Kata Sakti berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mampu dan kuat. Ini berarti salah satu perjuangan suami adalah menumbuhkan keluarga yang tangguh dari berbagai godaan hidup apalagi dalam dunia modern seperti sekarang ini.

Ketiga kewajiban iitulah yang harus disatukan oleh suami dalam memimpin keluarga. Dari kewajiban itu akan memberikan makna kesejahteraan lahir dan batin dalam kehidupan rumah tangga  yang dilambangkan oleh priuk dan bakul yang digantung di ujung ikatan cangkul tersebut. Begitupun sebaliknya kewajiban bagi sang istri seperti yang dilambangkan dalam sarana Banten Suwun-suwunan.

Demikian kiranya sekilas tentang Makna Banten Perkawinan dalam umat Hindu di Bali. T terutama umatMemang saya akui dan sadari artikel ini mungkin jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mohon kritik dan saran anda serta tanggapan sobat terutama umat Hindu di Bali. Semoga artikel ini bisa menjadi bahan sobat umat Hindu di Bali khususnya dalam mengarungi masa GRAHASTA agar menjadi keluarga yang harmonis, sejahtera, rukun dan damai.

Akhir kata saya ucapkan terimakasih. Semoga Damai di hati, damai dan damai.
Om Santih, Santih, Santih Om. 
Share on Google Plus

About rodhie sutrawan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment