DARI GALIAN "C" SAMPAI GALIAN KUBUR

GALI PAD ATAU GALI KUBUR UNTUK MASA DEPAN
KASUS GALIAN C DI KARANGASEM
(written by I Wayan Putra Yasa)


Otonomi daerah yang digulirkan sejak beberapa tahun ini mendorong setiap daerah untuk mengembangkan dirinya secara maksimal. Untuk mencapai tujuan itu setiap daerah berusaha untuk memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki oleh daerahnya. Dari potensi alam, budaya, dan manusianya terus didorong untuk memiliki kontribusi yang maksimal dalam pembangunan daerahnya agar bisa menjadi daerah yang mandiri dan memiliki kualitas yang baik. Sebab, baik buruknya daerah dalam era otonomi daerah ini ditentukan oleh daerah itu sendiri, sejauh mana bisa mengembangkan diri dan membangun daerahnya berdasarkan potensi yang dimiliki. 

Oleh karena itu, setiap daerah di Indonesia berupaya untuk meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari berbagai pajak, kontribusi dan yang lainnya yang berasal potensi yang ada di daerahnya itu. Di Bali sebagai daerah tujuan wisata terbesar di Indonesia berupa mengenjot pendapatannya dengan pengembangan pariwisata dengan  berbagai komponen yang ada di dalamnya dari perjalanan wisata, retribusi objek wisata dan hotel, dan hal yang lainnya. Pemerintah propinsi mengelurkan kebijakan kepada seluruh kabupaten agar mengembangkan diri sehingga menjadi tujuan-tujuan wisata yang handal dengan menyediakan berbagai sarana dan prasarana penunjang agar wisatawan yang datang  mendapatkan kepuasan dan tertarik untuk datang kembali ke daerah itu.

Di balik gemerlapnya pariwisata Bali, kabupaten Karangasem belum begitu memiliki kontribusi maksimal dari sektor pariwisata sehingga mencari celah yang lainnya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya dengan melakukan penggalian potensi alamnya secara maksimal yaitu dengan pengembangan penambangan Galian C. seperti yang terlihat dari apa yang disampaikan oleh Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, S.H. tiga hal yang akan dikembangkan dalam usaha untuk meningkatkan PAD kabupaten Karangasem yaitu melalui Galian C sebagai pendapatan utama, kemudian Pariwisata dan terakhir adalah pertanian. Seperti yang dijelaskan lebih lanjut oleh Wakil Bupati Karangasem I Made Sukerana, SH menyebut, potensi galian C disatu sisi memang memberi dampak menggiurkan bagi masyarakat dan manfaat PAD bagi pemerintah daerah yang dikembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk program pembangunan. Adanya peningkatan yang sangat signifikan dalam bidang PAD dari yang hanya 20 Milyar kini telah mencapai 100 Milyar membuat eksploitasi alam Karangasem dengan Galian C adalah hal yang wajar. Tujuannya satu, pundi-pundi PAD melonjak ratusan persen dari Rp 12 miliar tahun lalu dan kini ditarget Rp 80 miliar. Bahkan, Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mentargetkan tahun 2012, PAD Karangasem dari galian C saja bisa naik menjadi Rp 100 miliar

Sampai dengan oktober 2010, eksploitasi galian C Karangasem setiap hari mencapai 1.678 truk dan per bulan sebanyak 50.340 truk dengan lintasan portal meliputi dititik Rendang 950 truk, Selat 170 truk, Geriana Kangin 50 truk, Butus 200 truk, Tianyar Barat 225 truk, Datah 35 truk, Untalan 10 truk, Liligundi 30 truk dan Pempatan 8 truk. Sementara target pemasukan dari galian C per bulan mencapai Rp 1.779.000.000 atau per hari Rp 59.330.000. Untuk tahun 2010 target pemasukan dari galian C, menurut Kepala Dispenda Ir I Gede Adnya Mulyadi, MM, ditetapkan sebesar Rp 12.559.000 yang kini hingga Oktober sudah tercapai Rp 10.699.000.000 (85,19%). Adanya iming-iming dana yang melipah tersebut menyebabkan setiap dari semakin banyak dibangun galian C.

Berdasarkan berbagai berita di media massa baik di Koran Bali Post tanggal 27 April 2011 menyebutkan galian C yang dilaksanakan di berbagai daerah sudah mengarah kepada eksploitasi yang berlebihan dan cenderung pada perusakan alam. Ini dikarenakan banyak galian C yang dibangun sudah tidak memperhitungkan tata ruang dan juga kelestarian lingkungan yang ada di sekitarnya. Beberapa galian C yang ada di berbagai daerah di Karangasem telah merambah daerah konservasi alam dan kawasan produktif untuk lahan pertanian, seperti yang terjadi pada daerah di Desa Sebudi dan Yeh Kori. Galian C di daerah Sebudi yang mendapatkan restu dari pemerintah atau dengan kata lain memiliki ijin  resmi karena masuk kawasan yang boleh di gali yaitu daerah dusun Lebih dan dusun Pura. Seiring dengan waktu dan iming-iming uang melimpah kawasan penggalian pun meluas ke daerah lain yang ada di sekitarnya yang tidak masuk dalam kawasan boleh digali. Kawasan-kawasan tersebut antara lain dusun Badeg dan dusun Sebudi yang merupakan kawasan non-galian C. Di dua daerah ini bermunculan perusahaan galian C yang tak berijin dengan kata  lain liar, sehingga tidak memiliki kontribusi langsung kepada Pendapatan Asli Daerah.

Berdasarkan informasi yang ada dilapangan perusahaan yang ada di daerah tersebut yaitu dusun Sebudi dan Badeg di back up oleh pejabat. Ini terbukti dengan jarangnya ada sidak ke tempat itu, walaupun pernah ada penghentian yang dilakukan Satpol PP hanya beberapa jam saja, yaitu ketika petugas itu ada di sana. Setelah petugas pulang galian C berjalan kembali. Ironis memang penggalian materi galian C di kawasan yang produktif dan dilindungi seperti itu selalu mengedepankan kepentingan orang berduit tanpa pernah memikirkan bagaimana dampak alam dan keberlangsungan generasi berikutnya. Di samping dampak kerusakan alam dalam jangka panjang keberadaan Galian C tentunya mengakibatkan dampak yang luas bagi masyarakat di sekitarnya. Memang harus diakui penggalian pasir di kawasan ini memberikan dampak positif bagi kalangan masyarakat yang memiliki lahan dan modal yang besar untuk ikut berkecimpung di bisnis ini. Sedangkan untuk masyarakat kecil yang tak bermodal, umumnya bisa menjadi buruh lepas ataupun harian seperti ngosek (meratakan pasir di truk), mengumpulkan batu, berjualan minuman atau makanan sehari-hari di sekitar galian C dan pekerjaan lainnya.

Para investor yang datang dan melakukan penggalian di kawasan itu tak jauh beda dengan kumbang yang mencari serbuk sari. Ketika sudah tak ada lagi mereka pergi dan meninggalkan kerusakan alam yang akan dinikmati oleh penduduk lokal di daerah itu. Yang sangat memprihatin di daerah galian C seperti di Badeg dan Yeh Kori adalah adalah mulai terjadi penggalian di daerah produktif ke galian C. Masyarakat di sana melakukan konversi lahan dari pertanian dan perkebunan seperti kopi, salak dan tanaman lainnya ke galian C karena memberikan keuntungan finansial secara langsung dan mudah. Masyarakat tinggal menghubungi investor untuk melakukan penggalian dengan kontrak sekian tahun atau sekian meter luasnya langsung menerima uang jutaan rupiah, ketimbang menjadi petani yang hanya mengumpulkan beberapa ribu dalam seharinya. Petani menjadi OKB (Orang Kaya Baru) dengan adanya pengembangan galian C ini. Tak pernah terpintas dipikiran mereka bagaimana nantinya lahan yang telah di gali tersebut. Jika ini terus dibiarkan beberapa tahun yang akan datang kawasan Karangasem akan menjadi kawasan yang semakin rusak dan kekeringan akan semakin meningkat.

Pemerintah dalam hal ini Pemda Karangasem seharusnya mulai berpikir untuk masa depan generasinya, tidak semata-mata hanya untuk mengeruk PAD sesaat. Seharusnya pemerintah memberikan solusi lain dalam pembangunan masih banyak kawasan yang bisa dikembangkan untuk menopang PAD selain dari galian C. Pariwisata dan pertanian adalah solusinya. Petani salak, perkebunan kopi, penanaman kayu yang bernilai ekonomis, dll  yang sudah baik di Karangasem perlu mendapatkan perhatian lagi dari pemerintah sehingga mereka bisa berkembang, begitu juga pengembangan pariwisata yang berbasis pada pelestarian lingkungan juga harus terus dikembangkan. Semoga dengan hal itu, Karangasem bisa maju seperti daerahnya tanpa harus mengorbankan generasi berikutnya dengan melakukan perusakan alam akibat adanya galian C yang tidak mengikuti aturan tata ruang yang telah ada, sehingga menggali PAD bukan berarti kita menggali kubur buat generasi berikutnya.
Share on Google Plus

About rodhie sutrawan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment