Re-BALI-sasi sebagai Usaha Untuk Mengembalikan Bali yang METAKSU


Carut-marut pembangunan dan kehidupan berbangsa kita dewasa ini seakan-akan menjadi hal yang kontradiktif dengan berbagai usaha untuk memajukan kehidupan berbangsa yang didengungkan oleh pemerintah. Bangsa kita ini sekarang dihadapkan pada berbagai permasalahan yang tidak kunjung berakhir, seakan-akan membuka gudang tua yang lama tidak pernah dibuka. Di sana-sini diketemukan berbagai benda yang kelihatan bagus dan bermanfaat buat kehidupan namun ketika dipakai yang muncul malah masalah baru. Di mana-mana terjadi kerusakan dan kerapuhan yang mengakibatkan sulit untuk bisa dipakai secara maksimal.

Analogi tersebut seakan pas dengan perkembangan bangsa ini, dalam sejarah bangsa kita yang sudah merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945 adalah awal kita membuka gudang sejarah bangsa yang kita sebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang di awal sebelumnya pada masa kerajaan di sebut Nusantara, atau Hindia Belanda pada masa penjajahan. Setelah pintu kemerdekaan itu terbuka bangsa kita mendapatkan berbagai hal baru di dalamnya. Ada kekayaan alam yang melimpah,  budaya yang beranekaragam, sumber daya manusia yang berjuta-juta yang kesemuanya itu memberikan harapan akan tercapainya suatu masyarakat yang lebih baik.

Namun apa yang telah terjadi sepanjang kurun waktu kemerdekaan itu yaitu sejak 17 agustus 1945 sampai tahun 2011 ini hanyalah permasalahan dan harapan. Masyarakat kita yang kaya, kalau dulu kaya Sumber daya alam sekarang mulai sulit karena sudah hampir habis di ekspoitasi yang tinggal adalah kaya masalah seperti lumpur lapindo, tanah longsor dan banjir, kekeringan dan masalah lingkungan lainnya. Kaya akan Sumber Daya Manusia karena pertumbuhan penduduk kita yang sangat cepat, yang sekarang sudah hampir mencapai 250 juta. Di tambah lagi permasalahan sosial yang timbulkan seperti pengganguran, kemiskinan, gisi buruk dan masih banyak yang lainnya. Kekayaan dalam  bidang budaya yang merupakan aset yang luar biasa, namun sekarang malah menjadi masalah ketika di klaim oleh bangsa lain yaitu Malaysia. Adanya konflik antar agama, golongan, etnis dan kelompok masyarakat seakan menjadi tambahan kekayaan kebudayaan di negeri ini, mulai lunturnya sikap persaudaaraan dan persatuan di antara komponen bangsa. 


Fenomena tersebut bagaikan jamur di musim hujan tumbuh subur di mana-mana. Termasuk di wilayah yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura, Pulau Dewata- Bali. Konflik horizontal sesama orang Bali, konflik antar banjar seakan hal yang wajar kita dengarkan setiap saat. Belum lagi berita kemiskinan di beberapa daerah, anak putus sekolah, kekeringan. Di mana Ajeg Bali yang didengungkan selama ini. Dimana Bali Mandara yang diprogramkan oleh pemerintah di bawah Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Masyarakat Bali terlena dengan kegemerlapan citra daerah yang aman, cinta damai, selalu toleransi. Ternyata semua itu hanya kesadaran palsu yang dibungkus politik pencitraan semata.

Mari buka mata kita, bahwa Bali sudah tidak aman, sudah tidak toleransi, sudah tidak cinta  damai lagi, mari bersama-sama kita membangkitkan kesadaran itu. Seluruh komponen masyarakat Bali dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan, desa pakraman, dadya, soroh/ wangsa, pendatang dan investor harus saling bahu membahu saling mengajegkan Bali membangun kembali taksu Bali. Memupuk rasa toleransi dan rasa persaudaraan yang sudah mulai kering dan layu. Memperbaharui ikatan persaudaraan yang mulai rapuh sehingga Bali kembali pada asalnya sebagai pulau yang damai, pulau surga yang terakhir.

Setiap komponen Bali di atas harus siap melakukan sikap re-Bali-isasi. Re-Bali-isasi yang adaptif dan sesuai dengan semangat zamannya. Re-Bali-isasi yang dilakukan memang benar-benar membuat Bali menjadi Bali yang metaksu tetapi tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah maju di abad ini. Bali yang think globaly do localy (berpikir secara global, bersikap lokal) sebagai bentuk riil bahwa manusia Bali adalah makhluk modern tanpa meninggalkan kultur dan nilai kebalian yang dimiliki dan menjadi taksu dan ciri khas Bali. Seperti yang tertuang dalam konsep Ajeg Bali yang muncul setelah Bom Bali I (2002) menitik beratkan pada tiga tatanan yaitu individu orang Bali, ruang budaya Bali dan proses budaya. Pada ketiga tataran tersebut, disepakati bahwa Ajeg Bali bukanlah sebuah konsep yang stagnan, melainkan sebuah upaya pembaruan terus menerus yang yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali untuk menjaga identitas, ruang serta proses budayanya agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global.





Untuk mencapai hal itu ada penguatan dalam tatanan idiologi, pembiasaan dalam aktifitas dan control yang kuat dari pemerintah, masyarakat Bali sehingga konsep Tri Kaya Parisudha sebagai salah satu idiologi Hindu yang menjadi penopang Bali dapat diejawantahkan dalam kehidupan kita. Orang Bali yang Ajeg Bali adalah orang metaksu secara pikiran (manacika), perkataan (wacika) dan tingkah laku (kayika). Di samping pola pikir orang Bali yang menganut asas desa, kala, patra harus diglorakan kembali. Artinya, manusia wajib menyesuaikan diri dengan dinamika keruangan (desa), kawaktuan (kala, kesejarahan) dan kondisi nyata yang dihadapi oleh manusia (patra). Dalam penyesuaian ini asas rwa bhineda, misalnya baik-buruk, untung-rugi, dan yang lainnya, tidak terhindarkan. Karena itu,  diperlukan strategi yang tepat agar yang baik dan yang menguntungkan lebih optimal atau bahkan mendominasi yang buruk dan yang merugikan bagi masyarakat Bali. Jika ini bisa dilaksanakan niscaya re-bali-isasi dapat terlaksana. Astungkara.

(written by I Wayan Putra Yasa)
Share on Google Plus

About rodhie sutrawan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment