Makna Hari Raya PAGERWESI bagi Umat Hindu

Pagerwesi merupakan salah satu Hari Raya besar bagi umat HINDU di Bali yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Sinta (setiap 6 bulan sekali atau 210 hari). Dalam kepercayaan Umat Hindu, Pagerwesi dikenal sebagai hari payogan Hyang Pramesti Guru beserta para Dewata Nawa Sanga dan para Pitara untuk keselamatan dunia beserta isinya.

Hari Raya Pagerwesi diawali dengan PANYEKEBAN dan PENAMPAHAN. Panyekeban (dari beberapa buku bacaan) mempunyai makna untuk mempersiapkan diri kita dalam agar dapat mengendalikan hawa nafsu. agar selalu bisa berfikiran jernih dan DHARMA. Penampahan, bukanlah sekedar NAMPAH (membunuh). Melainkan mempunyai makna yang lebih dalam lagi. Kenapa BABI yang di pakai simbol untuk dibunuh (DI TAMPAH)? BABI merupakan binatang paling malas dan mempunyai sifat ADHARMA. BABI juga merupakan simbol sang BHUTAKALA. Dengan Penampahan kita membuang/membunuh pikiran-pikiran ADHARMA untuk selanjutnya tetap berpikir positif dan sesuai DHARMA.
Dengan menghaturkan 'labaan(caru)' pada tengah malam yang ditujukan pada Panca Maha Bhuta. Sesudahnya, maka dilaksanakanlah Yoga-Samadhi meneguhkan pikiran agar dapat menahan gejolak Indrya. Nah, demikianlah yang umumnya disebutkan, dan diperkenalkan secara umum. Dalam kesempatan ini, saya mencoba menambahkan pemaknaannya dengan tinjauan spiritual filosofisnya seperti berikut ini.


Marilah kita perhatikan beberapa substansi terkait berikut,
1. Tengah Malam; pada tengah malam Caru pada Panca Maha Bhuta dilaksanakan. Kita ketahui bersama bahwa Panca Maha Bhuta adalah bahan baku dasar dari manusia serta semua yang berjasad atau berwujud.

2. Di sisi lainnya, Caru adalah korban suci yang laksanakan dengan tulus ikhlas, guna menetralisir pengaruh negatif semesta raya (makro kosmos) serta tetap menjaga keseimbangan dan keselarasan yang ada. Dalam hal ini, utamanya adalah keselarasan dan harmoni antara makro dengan mikro kosmos.

Nah, kini timbul pertanyaan berikut:
~ Apa yang semestinya kita carukan ?, dan
~ Mengapa dilaksanakan tengah malam ?, lebih mendasar lagi
~ Mengapa dilaksanakan pada Budha Kliwon Shinta ? serta
~ Mengapa dinamakan Pagerwesi ?

Tentu semuanya itu bukannya tanpa alasan. Pasti ada alasan yang relevan, yang mendasarinya secara spiritual filosofis. Apakah itu ?

Apa yang semestinya kita carukan ? Tak lain adalah kebinatangan kita beserta dorongan-dorongan indryawi yang tak habis-habisnya serta amat kuat pengaruhnya bagi kita. Semua itu bersumber dari Panca Maha Bhuta dengan
berbagai implikasinya. Bangkitnya Panca Tan Matra, terkondisikan dengan baik bilamana Panca Maha Bhuta diselaraskan sedemikian rupa. Dengan cara bagaimana ?

Kliwon kita uraikan menjadi Kali + won atau saat sedang lelah-lelahnya jasmani ini. Umumnya, kita semua mencapai puncak kelelahan dan ingin beristirahat (tidur) di tengah malam setelah seharian bekerja. Apalagi juga melaksanakan Upavasa; jadi klop.

Jasmani yang lelah, kemampuan perlawanannyapun pasti amat rendah. Ia mudah untuk ditundukan, karena tenaga kasarnya sudah sedemikian lemahnya. Kondisi jasmani yang demikian, amat kondusif bila digunakan untuk ber- Yoga-Samadhi. Sementara jasmani lelah, rokhani menjadi kuat demi menyeimbangkan konstelasi mikrokosmos. Nah, kesempatan inilah yang dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Dalam ajaran Yoga, kita mengenal apa yang diistilahkan dengan Brahma Muhurta. Brahma Muhurta mempunyai arti sama dengan Brahma Murthi (ingat Wisnu Murthi). Saat-saat itu, adalah saat-saat yang terbaik untuk menguatkan Cipta/Citta. Dikatakan juga bahwa saat itu Brahma Randra (pintu gerbang Brahma) sedang terbuka lebar. Bilamana momentum itu terjadi ? Konon, menurut
beberapa pustaka serta yang mengalaminya, adalah sejak tengah malam hingga sekitar pukul 3.30 waktu setempat.

Brahma yang disebutkan sebagai Hyang Pramesti Guru dalam hal ini, memancarkan kekuatan citta beliau pada 9 penjuru semesta raya (Nawa Sanga). Pada kesempatan ini pula para pitara kita menganugrahkan welas asihnya serta perlindungannya pada turunannya. Bukankah sangat ideal, antara konstelasi kosmik (makro-mikro) dengan momentum yang dipilih dari hasil penelitian para Yogi Nusantara ini ?

Semoga kita senantiasa dibimbing dalam Dharma, mengarungi samudra Samsara ini. Semoga semua makhluk, pendamba kesempurnaan dan Kebebasan Mutlak-nya segera mencapai apa yang dicita-citakan.

(disadur dari beberapa sumber bacaan Agama Hindu)
Share on Google Plus

About rodhie sutrawan

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment